Dokter Bantah Penyelesaian Anti Hipertensi Picu Gagal Ginjal, Ini adalah adalah Faktanya

Dokter Bantah Penyelesaian Anti Hipertensi Picu Gagal Ginjal, Ini adalah Faktanya

Lingkar Post – Jalan keluar anti hipertensi atau obat darah tinggi tak menyebabkan gagal ginjal. Hal itu ditegaskan dokter spesialis penyakit di ahli konsultasi kardiovaskular dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD-KKV.

“Kami memberikan atau mengendalikan hipertensi dengan obat-obatan justru akan melindungi ginjalnya,” ujar Idrus Alwi, Selasa (7/11/2023).

Ia mengatakan, penyulut terbanyak persoalan hukum gagal ginjal pada Indonesia adalah hipertensi yang tersebut bukan terkendali. Jadi, kata Idrus, dengan mengendalikan tensi para penderita tekanan darah tinggi, maka ginjal merek pun akan terlindungi.

Baca Juga  Dikaruniai Anak Setelah 12 Tahun Menikah, Dea Ananda Ungkap Perjuangannya Jalani Proyek Bayi Tabung

Atas dasar itu, obat anti hipertensi justru menjaga dari terjadinya komplikasi pada ginjal, juga tidak faktor dari gangguan ginjal.

“Tentunya, kita harus memantau fungsi ginjalnya secara berkala,” kata Idrus.

Idrus menyatakan terapi antihipertensi biasanya dianjurkan oleh para dokter untuk dikonsumsi seumur hidup.

Tujuannya, kata beliau melanjutkan, tiada belaka memberi proteksi untuk jantung lalu pembuluh darah, tetapi memberi proteksi untuk ginjal sebagai organ target lainnya.

Baca Juga  Melonjak 55 Persen, Inisiatif Bayi Tabung Klinik Ini adalah Berhasil Catat 421 Kehamilan

“Mengenai kombinasi obat antihipertensi dengan terapi alternatif, misalnya jamu, yang dimaksud penting kita harus tahu isinya apa,” ucap Idrus.

Akibatnya, Idrus bukan memberi jaminan keamanan terkait kombinasi obat antihipertensi dengan jamu sebagai penyembuhan alternatif.

“Yang paling dianjurkan adalah konsumsi sayur dan juga buah-buahan, itu dianjurkan,” kata dia.

Selain itu, juga terdapat perawatan alternatif untuk para penderita darah tinggi, seperti mengonsumsi seledri atau timun.

Baca Juga  Sekitar 8 Juta Orang Berusia di area Atas 50 Tahun Alami Kebutaan di dalam Indonesia, Ini Dua Penyebab Utamanya

“Boleh-boleh saja, tetapi ini bukanlah obat utama. Jadi, itu merupakan terapi pelengkap, tapi tidak obat utama,” ucap Idrus.

Dengan demikian, ia berpesan terhadap para penderita darah tinggi untuk tak mengganti obat utama yang dimaksud diberikan oleh dokter kemudian menggantinya dengan terapi alternatif.

“Jangan sampai mengakibatkan risiko komplikasi,” kata Idrus. (Antara)

Check Also

Dokter RSCM: Infeksi Pneumonia Mycoplasma Lebih Ringan Daripada wabah pandemi Covid-19

Dokter RSCM: Infeksi Pneumonia Mycoplasma Lebih Ringan Daripada wabah Covid-19

Lingkar Post – Publik diminta tidak ada perlu khawatir dengan adanya ancaman infeksi pneumonia mycoplasma …