Kemenkeu: Intervensi pangan mampu turunkan pemuaian beras November

Kemenkeu: Intervensi pangan mampu turunkan pemuaian beras November

Lingkar Post – DKI Jakarta – Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengungkapkan intervensi kebijakan pada pengendalian biaya jual pangan berhasil menurunkan naiknya nilai beras pada November 2023.

“Pemerintah terus berupaya untuk menjaga konsistensi pada mengantisipasi gejolak tarif melalui berbagai intervensi, seperti stabilisasi biaya juga pasokan. Salah satunya tercermin dari nilai jual beras di dalam di berbagai kota yang mulai melambat, bahkan di beberapa kota mulai mengalami penurunan,” kata Febrio di tempat pada Jakarta, Jumat.

Secara umum, kenaikan nilai November 2023 berada pada level 2,86 persen (year-on-year/yoy). Meski sedikit meningkat dibandingkan tempat Oktober 2,56 persen yoy, namun naiknya harga jual masih terkendali dalam pada di dalam sasaran 2023, yaitu 3,0±1,0 persen.

Baca Juga  Dolar nyaris datar seiring naiknya klaim tunjangan pengangguran AS

Perbaikan pemuaian November dipengaruhi oleh kenaikan naiknya tarif biaya pangan bergejolak (volatile food) yang digunakan mencapai 7,59 persen yoy, dalam area mana komoditas beras masih menjadi pendorong utama. Kendati begitu, tekanan naiknya tarif beras terhadap kenaikan nilai umum telah melemah dibandingkan dengan sebelumnya.

Pada November, naiknya tarif beras tercatat 0,43 persen (month-to-month/mtm). Sementara sebelumnya, naiknya nilai tukar beras pada September berada pada level 5,61 persen mtm kemudian Oktober 1,72 persen mtm.

Baca Juga  Bank Saqu sasar generasi produktif juga berjiwa solopreneur

Di sisi lain, perlambatan kenaikan nilai tukar inti masih berlanjut, yakni tercatat 1,87 persen yoy, sedikit tambahan rendah dari bulan lalu 1,91 persen yoy, kemudian naiknya harga jual biaya diatur pemerintah (administered price) turun tipis menjadi 2,07 persen yoy, dari 2,12 persen yoy pada Oktober.

Turunnya naiknya nilai administered price dipengaruhi oleh menurunnya nilai jual BBM seiring biaya minyak mentah dunia yang digunakan dimaksud melandai.

Baca Juga  Berobat Tanpa Asuransi, Kiki Fatmala: Duit Gak Dibawa Mati

Febrio menyatakan peran APBN dengan dengan APBD terus dioptimalkan sebagai shock absorber untuk merespons nilai pangan yang masih tertekan, teristimewa pada mempersiapkan masa liburan Natal dan juga Tahun Baru.

“Di berada di biaya pangan yang mana masih mengalami tekanan, otoritas terus berjanji untuk mengantisipasi gejolak nilai melalui kebijakan dari hulu hingga hilir. Bantuan pangan beras terus disalurkan pada rangka menjaga akses pangan masyarakat, teristimewa penduduk miskin serta juga rentan,” tutur Febrio.

 

Check Also

Rupiah melemah tipis seiring bursa nantikan rilis data tenaga kerja Negeri Paman Sam

Rupiah melemah tipis seiring bursa nantikan rilis data tenaga kerja Negeri Paman Sam

Lingkar Post – Ibukota – Rupiah pada akhir perdagangan hari Hari Hari Jumat melemah tipis …