Miris! Si Miskin Terhimpit Utang, Si Kaya Pesta Pora

Miris! Si Miskin Terhimpit Utang, Si Kaya Pesta Pora

lingkarpost.com –

Jakarta – Jurang si kaya lalu si miskin dalam Tanah Air makin melebar, seiring dengan kondisi perekonomian yang mana penuh tantangan saat ini. Bukti terbaru menunjukkan kondisi kantong dua golongan ini.

Survei Bank Indonesia (BI) bulan Oktober menunjukkan kelompok rakyat dengan pengeluaran Rp1-4 jt mulai menahan belanjanya sementara kelompok menengah atas berfoya-foya.

Dari catatan BI, ada perbedaan dalam hal belanja antara kelompok berpenghasilan. Porsi konsumsi rakyat dengan pengeluaran Rp1-2 jt turun menjadi 76,7%. Proporsi hal itu adalah yang mana terendah sejak Juni 2023 atau dalam empat bulan terakhir.

Konsumsi rakyat dengan pengeluaran Rp2,1-3 jt melemah menjadi 76,5%, tambahan rendah dibandingkan September yang dimaksud digunakan tercatat sebesar 77,1%. Sedangkan konsumsi rakyat dengan pengeluaran Rp3,1-4 jt juga berkurang menjadi 73,7%, terendah sejak Mei 2023 atau dalam lima bulan terakhir.

Lebih lanjut, kelompok pengeluaran di dalam dalam atas Rp5 juta, konsumsinya naik menjadi 68,4% pada Oktober atau naik tipis dibandingkan pada September yang tersebut digunakan tercatat 68,3%. Kelompok yang digunakan disebut mengorbankan tabungannya yang mana akhirnya turun menjadi 18%.

Survei BI menunjukkan kelompok hal itu pun menggunakan tabungannya untuk membayar cicilan yang digunakan mengalami kenaikan dengan porsi 13,6% pada Oktober 2023 atau naik 0,2 percentage point dibandingkan September.

Dapat disimpulkan, pergerakan survei di dalam area atas menunjukkan konsumsi penduduk menengah ke bawah Indonesia tercermin tertahan. Bahkan, kelompok penduduk dengan pengeluaran Rp 1-2 jt mengurangi konsumsi akibat ada cicilan yang mana dimaksud dibayar lebih banyak banyak besar (7,1%) serta menambah proporsi tabungannya (15,7%).

Baca Juga  Lonjakan Upah Bikin Pengusaha Kabur, Itu Salah Kepala Daerah!

Kelompok umum berpengeluaran Rp 2,1-3 jt mengurangi konsumsi kemudian tabungan dikarenakan harus membayar cicilan yang dimaksud yang sangat tambahan besar. Proporsi cicilan naik menjadi 8,2% pada Oktober 2023, tambahan tinggi dibandingkan 7,4% pada September.

Si Kaya Masih Belanja

Kondisi konsumsi kaum menengah ke bawah yang tersebut mana melambat diakui oleh sebagian pihak, termasuk pengusaha ritel. Ketua Umum Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Budihardjo Iduansjah juga mengungkapkan, khusus terkait daya beli, sebetulnya kalangan rakyat menengah atas masih menjadi pengunjung utama ritel juga pusat belanja seperti dalam mal, lantaran mereka itu hingga pada masa sekarang ini pun masih mampu berpelesiran ke luar negeri.

“Kalau sektor menengah atas kami sih dia masih berbelanja bahkan ke luar negeri. Jadi itu mungkin di tempat tempat level kelas menengah serta ke bawah yang mana digunakan mungkin terkena permasalahan online tadi sebab barang-barang di area tempat online yang mana mana branded costumer tiada mau beli tapi spent pada tempat mall, kalau enggak dapat ke luar negeri,” tegas Budiharjo.

Dia menambahkan kondisi daya beli rakyat kelas menengah masih banyak menjadi customer sebab dengan tingkat bunga acuan bank sentral yang mana saat ini tinggi dapat mempertinggi bunga tabungannya. Hanya saja, kelas menengah ke bawah dinilainya memang cenderung tertekan inflasi.

Baca Juga  Dolar Amerika Serikat turun dipicu keyakinan Fed selesai naikkan suku bunga

Ekonom senior yang tersebut digunakan juga merupakan mantan Menteri Keuangan Anny Ratnawati menuturkan tekanan daya beli terhadap kelas menengah ke bawah itu disebabkan tekanan inflasi materi pangan atau volatile food yang dimaksud terus meninggi saat ini akibat efek berkepanjangan El-Nino, dan juga juga masuknya masa tanam pada tempat Indonesia.

Pada November 2023, BPS mencatat inflasi secara tahunan memang masih terkendali dalam tempat level 2,56% meskipun naik dari bulan sebelumnya di dalam area level 2,28%. Namun, untuk inflasi volatile food sudah bergerak tinggi kenaikannya ke level 5,54% dari sebelumnya di area tempat level 3,28%. Kondisi ini menurutnya menjadi salah satu indikator tertekannya daya beli warga kelas menengah ke bawah akibat porsi belanja merek terbesar ada pada pangan ketimbang aktivitas lain.

“Sehingga masyarakat miskin bawah itu konsumsinya itu antar 60%-63% dari income-nya untuk konsumsi pangan. Kalau inflasinya menghit pangan, pasti presentasenya naik, sehingga terjadi penurunan daya belinya. Jadi penurunan demandnya bukan sebab faktor hari raya kemudian libur panjang, ini yang tersebut dimaksud harus kita cermati,” ujar Anny.

Tidak cuma masyarakat kelas menengah ke bawah, Anny melihat untuk umum kelas menengah sendiri menurut Anny komponen belanja substansi pangan juga masih cukup besar, dengan porsi hingga 50%. Menyebabkan merek itu menurunkan porsi belanja untuk barang-barang lain sebab juga diperburuk oleh tekanan suku bunga acuan Bank Indonesia yang dimaksud digunakan sudah naik ke level 6%.

“Konsumsi mobil, rumah, itu mulai turun, dikarenakan golongan menengah income nominalnya kena inflasi, jadi income realnya turun. Sehingga pengaruhnya adalah daya belinya, sementara dia harus mencicil. Ini yang mungkin perlu kita antisipasi penurunan daya beli,” kata Anny.

Baca Juga  Kebiasaan Hal ini Bikin Susah Kaya, Jauhi Kalau Mau Sukses!

Deni Surjantoro, Kepala Biro Komunikasi juga Layanan Informasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), membenarkan bahwa El Nino telah terjadi terjadi memacu kenaikan inflasi volatile food termasuk beras.

Oleh sebab itu, pemerintah merilis paket kebijakan untuk stabilisasi perekonomian lalu melindungi daya beli masyarakat. Paket kebijakan yang dimaksud terdiri dari tiga kebijakan utama.

Pertama yaitu ‘Penebalan Bansos’ untuk melindungi daya beli umum miskin serta rentan. Kebijakan kedua yaitu ‘Percepatan Penyaluran Program KUR’ ditujukan untuk penguatan UMKM guna menopang pertumbuhan dalam dalam tengah peningkatan suku bunga.

Ketiga, kebijakan ‘Penguatan Sektor Perumahan’. Kebijakan ini ditempuh dengan pertimbangan efek pengganda sektor yang tersebut besar. Sampai dengan September 2023, kinerja sektor Perumahan berada dalam trend melambat sehingga perlu adanya intervensi untuk menggairahkan kembali kinerja sektor ini. Hal itu diharapkan mampu menopang kinerja perekonomian dalam tempat tengah risiko perlambatan global.

Hal ini dikerjakan untuk tetap melindungi daya beli rakyat miskin juga rentan, serta dapat menjaga pertumbuhan perekonomian 2023 di tempat dalam kisaran 5%.

Artikel Selanjutnya Pak Jokowi, Ada Gejala Belanja Warga RI Mulai Lesu Nih!

Check Also

Mendagri minta Pj. kepala wilayah segera penuhi anggaran pemilihan gubernur 2024

Mendagri minta Pj. kepala wilayah segera penuhi anggaran pemilihan gubernur 2024

Ibukota Indonesia – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memohon Pj. kepala wilayah segera memenuhi keinginan …